Minggu, 23 April 2017

Menit dan Jam, Jogjakarta dan Jakarta

“Deket kok, cuma 15 menit.”
“Wah jauh banget, makan satu jam di jalan itu.”

Jogjakarta. Kota kecil yang sering dieluhkan ‘wah wes koyo Jakarta wae’ (Wah udah seperti Jakarta saja) bagi sebagian penduduknya karena merasakan semakin banyaknya kemacetan. Perbandingan yang tidak sepadan menurut saya.

-----------

“Deket kok, cuma sejam”
“Cepet yaa, juma satu setengah jam.”

Jakarta. Sebuah provinsi yang kota-kota administratifnya terkadang tidak dianggap – coba siapa walikota Jakarta Barat? Kepadatan ada dimana-mana dan kemacetan bisa hampir ada di setiap kepadatan kendaraan. Entah jalan besar atau jalan perkampungan.

-----------

Perbedaan mendasar dalam perjalanan dari dua daerah itu adalah penggunaan satuan waktu menit dan jam. Jogjakarta menggunakan menit sebagai satuan lama perjalanan, sedangkan Jakarta menggunakan jam. Atas penggunaan standar yang berbeda ini, memberikan dampak yang sangat besar bagi kedua warga daerah tersebut apabila saling berkunjung.

Seorang Jogjakarta akan merasa sangat mati kutu dalam perjalanan setengah jam, meskipun di awal sudah diiming-imingi dengan ‘deket kok’. Sangat mati kutu. Karena hasil capaian jaraknya gak jauh. Sedangkan seorang Jakarta akan merasa hidup lebih bebas di Jogjakarta, meskipun melakukan perjalanan jauh versi seorang Jogjakarta, karena semua daerah jauh dicapai dengan waktu yang sepadan. Sehingga akan memandang indah Jogjakarta.

“Edyan muacet puol nek ning Jakarta ki.” – seorang Jogjakarta
“Jogja tu enak, nyaman, gak macet.” – seorang Jakarta

Semacet-macetnya Jogjakarta, tidak akan menyamai macetnya Jakarta. Itulah salah satu daya tarik Jogjakarta bagi seorang Jakarta. Selenggang-lenggangnya Jakarta, tetep aja rame sih. Jadi bukan daya tarik seorang Jogjakarta.

Jadi, buat seorang Jogjakarta, apabila memang ingin ke Jakarta, ubahlah persepsi perjalanan dari menit ke jam. Dalam sehari jangan kebanyakan tujuan perjalanan. Sedangkan buat seorang Jakarta, ubahlah pandangan jam menjadi menit. Karena Jogjakarta daerahnya kecil dan tidak semacet daerah asalmu. Buat hingga 5 tujuan pun dapat kau capai dalam sehari. Selamat berperjalanan!

Share:

Kamis, 16 Februari 2017

Margonda, Angkot, dan Penyeberang Jalan

Jalan Margonda. Sebuah jalan yang menurutku adalah denyut ekonominya Depok. Setelah lepas dari Jalan Margonda, akan terlihat sangat kontras antara Depok sebagai kota penunjang dan Jakarta sebagai kota pusatnya.

Setiap pagi, kendaraan menggeber gasnya untuk meningkatkan kecepatannya ke arah Jakarta. Mungkin biar cepet sampe kantor, takut terlambat. Ngeri lagi kalo malem jam pulang kantor. Para pengendara udah kebelet istirahat di rumah, jadinya ke arah Depok pada ngebut semua.

Para penduduk di Kober yang setiap mau ke kampus mesti wajib nyebrang Jalan Margonda ini. Kalau gak berani, mending gak usah nyebrang atau nunggu orang. Menunggu pengendara kasih kesempatan nyebrang itu kayak nunggu fakta kalau bumi itu datar. Lama dan hampir mustahil.

Nah, disinilah peranan angkot! Angkot sering banget ngetem di bibir gang Barel. Karena ngetemnya berkepanjangan dan menumpuk, akhirnya memakan badan jalan. Pengendara pun harus terpaksa melambatkan kecepatannya. Imbasnya, penyeberang jalan pun akan lebih aman dan mudah untuk menyeberang. Ini sangat membantu apabila dipagi hari. Karena tidak ada pembatas balok antara jalur cepat dan lambat untuk arah Jakarta. Sedangkan untuk arah Depok, para penyeberang jalan harus lebih berhati-hati.

Yah, setidaknya angkot ada sisi baiknya. Terimakasih, kot!
Share:

Jumat, 13 Januari 2017

Berbahagia Dalam Berprofesi

Suatu hari, ku melihat kebahagiaan dari dua jenis profesi.

Dokter
Beliau bercerita bukan masalah biaya pengobatan yang membuat kebahagiaan seutuhnya.
'Kalau pasien tulus berterimakasih, nggak rewel, menghargai profesi kami, itu lebih bahagia daripada kuantitas pasien yang lebih sedikit dan membayar lebih mahal.' ujar sang dokter tersebut.

Tentara.
Muka bahagia dan bangga terlihat ketika ada anak kecil bertanya mengenai profesinya. Beliau hanya bercerita sedikit dan menambahkan cerita khas anak kecil, 'Ada lebah galak dan kelinci yang digigitnya...'. Rasa puas itu terlihat dari mukanya.

Bahagia itu sederhana.

Konsultan pajak? Wah, ku harus berpikir apa kebahagiaanku nanti dan bagaimana menerangkan pekerjaanku. HAHA.
Share:

Kepercayaan Orangtua

Selintas ku merenung. Betapa besar kepercayaan Bapak ibu kepadaku.

SD ku mulai perjalanan sendiri dengan bus dan sepeda.
SMP ku dipinjami motor oleh mereka.
SMA ku habiskan waktuku tuk berkelana.
Kuliah ku jauh dari lingkaran geografisnya.

Seandainya ku menjadi orang tua kelak, bisakah melepas anakku seperti ini? Memberi kepecayaan penuh pada cucu dari Bapak Ibuku?

'Sudah sampai UI, kenapa harus balik ke Jogja?'
Penutup pamungkas dari Bapak dalam renungan ini.

Klaten
Senja Utama Solo
Sabtu, 30 Desember 2016 18:13
Share:

3 Tahun Berlalu Sudah



'Kuliah dimana, Bur?'

Akuntansi UI.

Alasannya karena gak tau mau kemana dan Akuntansi UI cukup WAH bagi anak daerah. HAHA.

------------------------------------------------------------

Sudah 3 tahun semenjak pertanyaan itu ada. Kini sudah mendekati akhir dari perjalanan gue di kampus yang gue sebutkan diatas.

Terimaksasih FEUI 2013. Karena sudah mengajari gue bagaimana membentuk pola memikirkan diri sendiri tanpa mengesampingkan kepentingan sosial.

Good luck buat skripsi atau laporan magangnya!
Share:

Kenclengku Daarut Tauhid

Sebuah terobosan bagus dari Daarut Tauhid yang sebenernya udah lama berjalan, tapi tetep aja gue akuin sebagai terobosan yang oke punya.


Mungkin komunitas Budha Tzu Chi udah mulai duluan dengan Celengan Bambu-nya, tapi bukan hal yang buruk untuk mengikutinya kan?

Simpel, jelas, dan memudahkan.

Tinggal ambil gratis di kantor cabang Daarut Tauhid, masukin recehan setiap harinya. Kalau udah penuh, bisa setorkan langsung. Cara simpel untuk bersedekah dari uang receh yang tidak kita harapkan dengan hasil prgram yang jelas. Entah untuk sosial atau keagamaan.

Daripada kita ngasih ke pengemis dan setelah ngasih 'Ih kerjaan kok minta-minta', mending masukin aja ke Kenclengku. Yuk, ikutan!


Hasil gambar untuk kenclengku

Sumber Gambar : Link
Share:

Sabtu, 17 Desember 2016

Pertanyaan Penuh Makna Khas Ibu

"Sudah sholat belum?"


Pertanyaan pamungkas dari Ibu yang selalu ditanyakan ke aku. Sejak SD hingga kini. Mulai saat persami sampai merantau disini.

Mungkin dalam kamus beliau, gak ada pertanyaan macam:

"Udah makan?"
"Gimana sekolah?"

Terkadang aku merasa, ini aku beneran diperhatiin gak yaa? Kok gak pernah ditanyain pertanyaan lain.

Hingga suatu ketika, Mbak Lulu juga mempertanyakan hal yang sama dalam canda tawa keluarga.

Oke, berarti bukan hanya aku aja yang ditanyain kaya gitu. Aman.

-------

Kini, baru tersadar. Pertanyaan ringkas yang terus berulang itu, memiliki penuh makna.

Meskipun tak tersurat kasih sayang, tetapi makna siratan yang ada tak mampu tertampung oleh apapun di dunia ini.

Seandainya pertanyaan ini lepas, mungkin pertanyaan 'udah makan' dan 'gimana sekolah' akan terjawab 'ntar aja' dan 'ya begitulah'. Ya, karena tiang hidupku bisa jadi akan rapuh, sehingga hidup akan ikut bergoyang juga.

Terimakasih Ibu, atas pertanyaanmu yang selalu mengingatkanku. Semoga menjadi ladang amalmu kelak nantinya.

-------

Kini, pertanyaan rutin dari Ibu bertambah satu semenjak merantau.

"Uang udah habis belum?" 

HEHEHE.
Share:

Dimana Mendapatkan Kawan?

"Pak, kenapa kawan di SMA dan di kuliahan rasanya beda ya Pak?"


Ku mulai pembicaraan dengan Bapak kala itu dengan sebuah pertanyaan yang mungkin ke kanak-kanakan. Iya, pertanyaan kegundahaan yang saat itu kurasakan, sekitar 2 tahun lalu.

"Iya, emang beda."

Ku mulai berpikir dari jawaban Bapak. Kenapa Bapak menyetujui pertanyaanku?

"Kawan SMA memang untuk kawan bersenda gurau. Untuk lebih dari itu, susah."

Lanjut jawaban dari Bapak, sembari ku terus menyimaknya.

"Sedangkan kawan kuliah, akan berguna bagimu untuk kerja kelak. Maka, senda guraunya tidak sebanyak kawan SMA."

Tak ada pertanyaan lagi atas jawaban Bapak yang terakhir ini. Ku hanya berpikir dan bertanya dalam hati, apakah iya?

-------

2 tahun berlalu dan kini kusadari.

Untuk bersenda gurau secara lepas,  aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan kawan SMA. Topik yang sangat luas tanpa batas. Tetapi akan berhenti disitu saja. Itu masa lalu. Nostalgia.

Kini, semakin terfokus pikiran kami. Topik pembicaraan yang kulakukan dengan kawan kuliah tak jauh dari ekonomi dan bisnis. Sudah. Paling menyerempet ke politik. Terkadang memang membosankan, tetapi untuk mengasah pengetahuan kerja, bersama rekan kerja di masa depan, menjadi sebuah investasi baru dan cukup menjanjikan.

---------

Jadi, dimana akan mendapatkan kawan? SMA atau Kuliah? Keduanya bisa dan keduanya akan bermanfaat.

Perpustakaan FEB UI
Depok, 17 November 2016
H-14 Deadline Proposal Skripsi
Share:

Sabtu, 03 Desember 2016

Teman Ahok, Seriusan Lo?

Berhenti sejenak pada postingan temanahokofficial di Instagram.




Gue cermati, gue baca perlahan. Dan gue pertanyakan, seriusan lo?

Entah mengapa, ini bukan Teman Ahok banget deh. Bukan Teman Ahok yang gue kenal sejak militan dahulu. Meskipun gue hanya mengenalnya via dunia maya saja.

Gue cari, siapa yang sebenarnya bikin acara ini, Karena kalo lihat detailnya, acara ini cukup mewah. Ternyata yang bikin semacam organisasi atau perkumpulan bernama Kebangsaan_ID. Penasaran, gue telusuri apa organisasi ini, gue cek Instagram dan Twitter-nya (karena belum ada websitenya).

Wow! Baru kemaren November 2016, organisasi ini join dua akun itu.

Gue cari siapa ketuanya dan AHA. Setidaknya ada kaitan sedikit demi sedikit. Find yourself, guys!

Terakhir. Teman Ahok, Seriusan Lo joinan kaya gini?

Gue akhirkan disini aja deh postingan kali ini.
Share:

Aksi 212, Gusti Maafkanlah Hamba-Mu

Sekitar akhir November, aku berdiskusi dengan Ibu, Diskusi mengenai aksi 411. Posisiku saat itu berada di pihak yang masa bodoh. Argumenku, aksi 411 kental sarat politis. Sedangkan Ibu, pada posisi, inilah dimana kita akan diuji keimanannya.

Oiya, sebelumnya kami membahas mengenai aksi rush money.

Hingga pada hari Kamis, 1 Desember 2016. Aku berpikir, kemana ku harus berpihak kali ini?

Ditengah kebimbangan itu, ku menemukan tweet milik Gus Mus mengenai hasil pemikiran beliau mengenai sholat berjamaah di jalanan -- yang merupakan salah satu bagian dari aksi 212. Beliau berpendapat bahwa hal tersebut adalah bid'ah.

"San, lo besok ikutan?" tanyaku ke guru ngajiku, yang kebetulan seangkatan, jawabnya dengan ringan dan tulus, "Insyaallah." Jawaban tulus ini membuatku ragu.

Menjelang maghrib, ku panjatkan doa, kemanakah ku harus berpihak?

Ba'da maghrib, ku tamatkan surat Al-Kahfi dan kupanjatkan doa lagi untuk aksi 212 dan hasil keputusan pribadiku ini. Ku mantab untuk berpihak pada aksi 212, tetapi hanya mampu mendoakan saja.

Esoknya, hujan turun deras hingga siang hari. Media nasional mengabarkan betapa damainya aksi 212. Malam dan hari setelahnya, tidak ada berita kericuhan atas aksi 212 ini. Subhanallah.

Kuyakin atas pilihanku ini karena umat berhak memilih ketika alim ulama telah mengeluarkan hasil ijtihadnya. Tetapi, Gusti, maafkanlah hamba-Mu ini. Ku tau pilihanku ini adalah selemah-lemahnya iman, ku hanya mampu mendoakan.
Share: