Kamis, 29 Juni 2017

Sepasang Sejoli, Gimana Sih Percurhatan Yang Oke Diantara Kalian?

Berawal dari pengalaman sepasang sejoli yang kutemui akhir-akhir ini, ku belajar suatu hal. Dan ku kerucutkan jadi sebuah pertanyaan, 'Gimana sih curhat yang oke tentang pasangan dan kepada siapa ku harus curhat?'

Teringat dari petikan ceramah Ustadz Salim A. Fillah yang kurang lebih, 'Kalau udah ada jamaah wanita, SMS atau tanya ke saya perihal rumah tangganya, saya langsung serahkan ke istri saya atau saya menolak menjadi tempat konsultasi.'

Bagi Ustadz Salim, hal tersebut sangat berbahaya. Karena bisa sang wanita menjadi nyaman dengannya atau saran-saran yang ada malah menghancurkan hubungan dengan sang pasangan.

'Seandainya esok ada masalah ketika menikah, sang istri bercerita ke Ibunya, maka sang Ibu harus mendukung menantunya, bukan anaknya. Begitu pula dengan Ibu sang suami.' lanjut Ustadz Salim di ceramahnya. Logika ini bener banget! Kenapa? Karena akan saling menguatkan hubungan pasangan. Ketika sang Ibu malah setuju, akan timbul dua kubu yang memanaskan hubungan.

Hal ini sangat bagus. Menutup celah sebagai tempat curhat lawan jenis dan mendukung pasangan dari seorang yang curhat ke kamu.

Jadi, ketika ada lelaki curhat ke teman wanitanya, itu akan berbahaya karena bisa menjadi terlanjur nyaman. Begitu pula wanita kepada teman lelakinya. Solusinya apabila udah terlanjur seperti itu, maka introspeksi kok bisa sampe pasangan kita curhat ke lawan jenis, bisa jadi ada perilaku yang membuat pasangan tidak nyaman untuk bercerita. Bisa karena kita marah terus, jutek, gak ada percikan cinta, atau lainnya.

Dan ketika wanita curhat ke temen-temen wanitanya, lalu mereka berkata, 'Wah iya kamu bener banget, laki mu emang gak bener dah' maka hati-hatilah atas saran itu. Apabila gak parah banget, hindari saran itu. Begitu pula dengan sang lelaki dan kawan-kawan lelakinya. Sebaiknya, cari lingkaran yang sebaliknya, 'Tapi kalo gitu kan berarti laki mu tandanya sayang dong sama kamu. Iyaaaa kan? Iyaaaa kan?' Bisa dimulai dari kita apabila teman curhat, sehingga ketika kita curhat, teman kita akan memberikan saran yang tidak jauh berbeda. Atau bikin perjanjian dengan teman dalam lingkaran kita untuk membela sang pasangan, bukan diri kita.

Well, tetap percaya pada pasangan kita dan serahkan sisanya ke Allah semata, semoga bermanfaat! 😁
Share:

Minggu, 23 April 2017

Mengapa Tidak Langsung Belajar Al-Quran dan Al-Hadist Aja?

Aku sempat berpikir untuk seperti itu.

"Ngapain kita belajar ilmu lain dari Ustadz kalo kita bisa langsung nemu di Al-Quran dan Al-Hadist?"

Lalu, aku coba beberapa saat. Hasilnya? Bingung setengah mati.

Kita tau kalo terjemahan Indonesia dari Al-Quran, sangat bukan kosa kata orang Indonesia. Mana ada kosa-kata Indonesia yang menggunakan perandaian dan sangat indah? Saking indahnya aku berpikir, ini maksudnya mau ngomong apa sih?

Mulai saat itulah ku tersadar. Bayangkan bahwa Al-Quran dan Al-Hadist adalah ilmu yang paripurna. Ketika belajar advance accounting saja, kita mesti belajar pengantar akuntansi dan intermediate accounting. Gimana kita paham kalo ujug-ujug langsung belajar advance accounting? Sesat pikir yang ada. Terlebih kalo kita terapkan ke Al-Quran dan Al-Hadist yang mana kita nggak belajar disiplin ilmunya. Gimana kita mau ujug-ujug ke ilmu paripurnanya? Yaa sesat pikir yang ada.

Akhirnya ku mengakui diri karena bukan dari disiplin ilmu yang mempelajari Al-Quran dan Al-Hadist, maka ku hanya bisa mempelajari melalui ceramah-ceramah Pak Ustadz. Ini kalo diandaikan yaa masih PAUD. Belajar permukaan aja, ibadah yang akan dilakukan sehari-hari. Sudah. Ketika akan memasuki lebih dalam, ilmuku gak nyampe, karena memang disiplin ilmuku tidak disana.

Jadi, jangan keblinger untuk sok-sokan langsung belajar ke kedua sumber ilmu yang paripurna. Ikuti prosesnya saja, kalau tidak mau yaaa dengarkan ulasan-ulasan dari sumber ilmu tersebut. Jangan pernah menjadi ahli agama sedangkan kita tidak belajar disiplin ilmu itu. Jangan! Debat kusir ntar adanya.
Share:

Menit dan Jam, Jogjakarta dan Jakarta

“Deket kok, cuma 15 menit.”
“Wah jauh banget, makan satu jam di jalan itu.”

Jogjakarta. Kota kecil yang sering dieluhkan ‘wah wes koyo Jakarta wae’ (Wah udah seperti Jakarta saja) bagi sebagian penduduknya karena merasakan semakin banyaknya kemacetan. Perbandingan yang tidak sepadan menurut saya.

-----------

“Deket kok, cuma sejam”
“Cepet yaa, juma satu setengah jam.”

Jakarta. Sebuah provinsi yang kota-kota administratifnya terkadang tidak dianggap – coba siapa walikota Jakarta Barat? Kepadatan ada dimana-mana dan kemacetan bisa hampir ada di setiap kepadatan kendaraan. Entah jalan besar atau jalan perkampungan.

-----------

Perbedaan mendasar dalam perjalanan dari dua daerah itu adalah penggunaan satuan waktu menit dan jam. Jogjakarta menggunakan menit sebagai satuan lama perjalanan, sedangkan Jakarta menggunakan jam. Atas penggunaan standar yang berbeda ini, memberikan dampak yang sangat besar bagi kedua warga daerah tersebut apabila saling berkunjung.

Seorang Jogjakarta akan merasa sangat mati kutu dalam perjalanan setengah jam, meskipun di awal sudah diiming-imingi dengan ‘deket kok’. Sangat mati kutu. Karena hasil capaian jaraknya gak jauh. Sedangkan seorang Jakarta akan merasa hidup lebih bebas di Jogjakarta, meskipun melakukan perjalanan jauh versi seorang Jogjakarta, karena semua daerah jauh dicapai dengan waktu yang sepadan. Sehingga akan memandang indah Jogjakarta.

“Edyan muacet puol nek ning Jakarta ki.” – seorang Jogjakarta
“Jogja tu enak, nyaman, gak macet.” – seorang Jakarta

Semacet-macetnya Jogjakarta, tidak akan menyamai macetnya Jakarta. Itulah salah satu daya tarik Jogjakarta bagi seorang Jakarta. Selenggang-lenggangnya Jakarta, tetep aja rame sih. Jadi bukan daya tarik seorang Jogjakarta.

Jadi, buat seorang Jogjakarta, apabila memang ingin ke Jakarta, ubahlah persepsi perjalanan dari menit ke jam. Dalam sehari jangan kebanyakan tujuan perjalanan. Sedangkan buat seorang Jakarta, ubahlah pandangan jam menjadi menit. Karena Jogjakarta daerahnya kecil dan tidak semacet daerah asalmu. Buat hingga 5 tujuan pun dapat kau capai dalam sehari. Selamat berperjalanan!

Share:

Kamis, 16 Februari 2017

Margonda, Angkot, dan Penyeberang Jalan

Jalan Margonda. Sebuah jalan yang menurutku adalah denyut ekonominya Depok. Setelah lepas dari Jalan Margonda, akan terlihat sangat kontras antara Depok sebagai kota penunjang dan Jakarta sebagai kota pusatnya.

Setiap pagi, kendaraan menggeber gasnya untuk meningkatkan kecepatannya ke arah Jakarta. Mungkin biar cepet sampe kantor, takut terlambat. Ngeri lagi kalo malem jam pulang kantor. Para pengendara udah kebelet istirahat di rumah, jadinya ke arah Depok pada ngebut semua.

Para penduduk di Kober yang setiap mau ke kampus mesti wajib nyebrang Jalan Margonda ini. Kalau gak berani, mending gak usah nyebrang atau nunggu orang. Menunggu pengendara kasih kesempatan nyebrang itu kayak nunggu fakta kalau bumi itu datar. Lama dan hampir mustahil.

Nah, disinilah peranan angkot! Angkot sering banget ngetem di bibir gang Barel. Karena ngetemnya berkepanjangan dan menumpuk, akhirnya memakan badan jalan. Pengendara pun harus terpaksa melambatkan kecepatannya. Imbasnya, penyeberang jalan pun akan lebih aman dan mudah untuk menyeberang. Ini sangat membantu apabila dipagi hari. Karena tidak ada pembatas balok antara jalur cepat dan lambat untuk arah Jakarta. Sedangkan untuk arah Depok, para penyeberang jalan harus lebih berhati-hati.

Yah, setidaknya angkot ada sisi baiknya. Terimakasih, kot!
Share:

Jumat, 13 Januari 2017

Berbahagia Dalam Berprofesi

Suatu hari, ku melihat kebahagiaan dari dua jenis profesi.

Dokter
Beliau bercerita bukan masalah biaya pengobatan yang membuat kebahagiaan seutuhnya.
'Kalau pasien tulus berterimakasih, nggak rewel, menghargai profesi kami, itu lebih bahagia daripada kuantitas pasien yang lebih sedikit dan membayar lebih mahal.' ujar sang dokter tersebut.

Tentara.
Muka bahagia dan bangga terlihat ketika ada anak kecil bertanya mengenai profesinya. Beliau hanya bercerita sedikit dan menambahkan cerita khas anak kecil, 'Ada lebah galak dan kelinci yang digigitnya...'. Rasa puas itu terlihat dari mukanya.

Bahagia itu sederhana.

Konsultan pajak? Wah, ku harus berpikir apa kebahagiaanku nanti dan bagaimana menerangkan pekerjaanku. HAHA.
Share:

Kepercayaan Orangtua

Selintas ku merenung. Betapa besar kepercayaan Bapak ibu kepadaku.

SD ku mulai perjalanan sendiri dengan bus dan sepeda.
SMP ku dipinjami motor oleh mereka.
SMA ku habiskan waktuku tuk berkelana.
Kuliah ku jauh dari lingkaran geografisnya.

Seandainya ku menjadi orang tua kelak, bisakah melepas anakku seperti ini? Memberi kepecayaan penuh pada cucu dari Bapak Ibuku?

'Sudah sampai UI, kenapa harus balik ke Jogja?'
Penutup pamungkas dari Bapak dalam renungan ini.

Klaten
Senja Utama Solo
Sabtu, 30 Desember 2016 18:13
Share:

3 Tahun Berlalu Sudah



'Kuliah dimana, Bur?'

Akuntansi UI.

Alasannya karena gak tau mau kemana dan Akuntansi UI cukup WAH bagi anak daerah. HAHA.

------------------------------------------------------------

Sudah 3 tahun semenjak pertanyaan itu ada. Kini sudah mendekati akhir dari perjalanan gue di kampus yang gue sebutkan diatas.

Terimaksasih FEUI 2013. Karena sudah mengajari gue bagaimana membentuk pola memikirkan diri sendiri tanpa mengesampingkan kepentingan sosial.

Good luck buat skripsi atau laporan magangnya!
Share:

Kenclengku Daarut Tauhid

Sebuah terobosan bagus dari Daarut Tauhid yang sebenernya udah lama berjalan, tapi tetep aja gue akuin sebagai terobosan yang oke punya.


Mungkin komunitas Budha Tzu Chi udah mulai duluan dengan Celengan Bambu-nya, tapi bukan hal yang buruk untuk mengikutinya kan?

Simpel, jelas, dan memudahkan.

Tinggal ambil gratis di kantor cabang Daarut Tauhid, masukin recehan setiap harinya. Kalau udah penuh, bisa setorkan langsung. Cara simpel untuk bersedekah dari uang receh yang tidak kita harapkan dengan hasil prgram yang jelas. Entah untuk sosial atau keagamaan.

Daripada kita ngasih ke pengemis dan setelah ngasih 'Ih kerjaan kok minta-minta', mending masukin aja ke Kenclengku. Yuk, ikutan!


Hasil gambar untuk kenclengku

Sumber Gambar : Link
Share:

Sabtu, 17 Desember 2016

Pertanyaan Penuh Makna Khas Ibu

"Sudah sholat belum?"


Pertanyaan pamungkas dari Ibu yang selalu ditanyakan ke aku. Sejak SD hingga kini. Mulai saat persami sampai merantau disini.

Mungkin dalam kamus beliau, gak ada pertanyaan macam:

"Udah makan?"
"Gimana sekolah?"

Terkadang aku merasa, ini aku beneran diperhatiin gak yaa? Kok gak pernah ditanyain pertanyaan lain.

Hingga suatu ketika, Mbak Lulu juga mempertanyakan hal yang sama dalam canda tawa keluarga.

Oke, berarti bukan hanya aku aja yang ditanyain kaya gitu. Aman.

-------

Kini, baru tersadar. Pertanyaan ringkas yang terus berulang itu, memiliki penuh makna.

Meskipun tak tersurat kasih sayang, tetapi makna siratan yang ada tak mampu tertampung oleh apapun di dunia ini.

Seandainya pertanyaan ini lepas, mungkin pertanyaan 'udah makan' dan 'gimana sekolah' akan terjawab 'ntar aja' dan 'ya begitulah'. Ya, karena tiang hidupku bisa jadi akan rapuh, sehingga hidup akan ikut bergoyang juga.

Terimakasih Ibu, atas pertanyaanmu yang selalu mengingatkanku. Semoga menjadi ladang amalmu kelak nantinya.

-------

Kini, pertanyaan rutin dari Ibu bertambah satu semenjak merantau.

"Uang udah habis belum?" 

HEHEHE.
Share:

Dimana Mendapatkan Kawan?

"Pak, kenapa kawan di SMA dan di kuliahan rasanya beda ya Pak?"


Ku mulai pembicaraan dengan Bapak kala itu dengan sebuah pertanyaan yang mungkin ke kanak-kanakan. Iya, pertanyaan kegundahaan yang saat itu kurasakan, sekitar 2 tahun lalu.

"Iya, emang beda."

Ku mulai berpikir dari jawaban Bapak. Kenapa Bapak menyetujui pertanyaanku?

"Kawan SMA memang untuk kawan bersenda gurau. Untuk lebih dari itu, susah."

Lanjut jawaban dari Bapak, sembari ku terus menyimaknya.

"Sedangkan kawan kuliah, akan berguna bagimu untuk kerja kelak. Maka, senda guraunya tidak sebanyak kawan SMA."

Tak ada pertanyaan lagi atas jawaban Bapak yang terakhir ini. Ku hanya berpikir dan bertanya dalam hati, apakah iya?

-------

2 tahun berlalu dan kini kusadari.

Untuk bersenda gurau secara lepas,  aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan kawan SMA. Topik yang sangat luas tanpa batas. Tetapi akan berhenti disitu saja. Itu masa lalu. Nostalgia.

Kini, semakin terfokus pikiran kami. Topik pembicaraan yang kulakukan dengan kawan kuliah tak jauh dari ekonomi dan bisnis. Sudah. Paling menyerempet ke politik. Terkadang memang membosankan, tetapi untuk mengasah pengetahuan kerja, bersama rekan kerja di masa depan, menjadi sebuah investasi baru dan cukup menjanjikan.

---------

Jadi, dimana akan mendapatkan kawan? SMA atau Kuliah? Keduanya bisa dan keduanya akan bermanfaat.

Perpustakaan FEB UI
Depok, 17 November 2016
H-14 Deadline Proposal Skripsi
Share:

Sabtu, 03 Desember 2016

Teman Ahok, Seriusan Lo?

Berhenti sejenak pada postingan temanahokofficial di Instagram.




Gue cermati, gue baca perlahan. Dan gue pertanyakan, seriusan lo?

Entah mengapa, ini bukan Teman Ahok banget deh. Bukan Teman Ahok yang gue kenal sejak militan dahulu. Meskipun gue hanya mengenalnya via dunia maya saja.

Gue cari, siapa yang sebenarnya bikin acara ini, Karena kalo lihat detailnya, acara ini cukup mewah. Ternyata yang bikin semacam organisasi atau perkumpulan bernama Kebangsaan_ID. Penasaran, gue telusuri apa organisasi ini, gue cek Instagram dan Twitter-nya (karena belum ada websitenya).

Wow! Baru kemaren November 2016, organisasi ini join dua akun itu.

Gue cari siapa ketuanya dan AHA. Setidaknya ada kaitan sedikit demi sedikit. Find yourself, guys!

Terakhir. Teman Ahok, Seriusan Lo joinan kaya gini?

Gue akhirkan disini aja deh postingan kali ini.
Share:

Aksi 212, Gusti Maafkanlah Hamba-Mu

Sekitar akhir November, aku berdiskusi dengan Ibu, Diskusi mengenai aksi 411. Posisiku saat itu berada di pihak yang masa bodoh. Argumenku, aksi 411 kental sarat politis. Sedangkan Ibu, pada posisi, inilah dimana kita akan diuji keimanannya.

Oiya, sebelumnya kami membahas mengenai aksi rush money.

Hingga pada hari Kamis, 1 Desember 2016. Aku berpikir, kemana ku harus berpihak kali ini?

Ditengah kebimbangan itu, ku menemukan tweet milik Gus Mus mengenai hasil pemikiran beliau mengenai sholat berjamaah di jalanan -- yang merupakan salah satu bagian dari aksi 212. Beliau berpendapat bahwa hal tersebut adalah bid'ah.

"San, lo besok ikutan?" tanyaku ke guru ngajiku, yang kebetulan seangkatan, jawabnya dengan ringan dan tulus, "Insyaallah." Jawaban tulus ini membuatku ragu.

Menjelang maghrib, ku panjatkan doa, kemanakah ku harus berpihak?

Ba'da maghrib, ku tamatkan surat Al-Kahfi dan kupanjatkan doa lagi untuk aksi 212 dan hasil keputusan pribadiku ini. Ku mantab untuk berpihak pada aksi 212, tetapi hanya mampu mendoakan saja.

Esoknya, hujan turun deras hingga siang hari. Media nasional mengabarkan betapa damainya aksi 212. Malam dan hari setelahnya, tidak ada berita kericuhan atas aksi 212 ini. Subhanallah.

Kuyakin atas pilihanku ini karena umat berhak memilih ketika alim ulama telah mengeluarkan hasil ijtihadnya. Tetapi, Gusti, maafkanlah hamba-Mu ini. Ku tau pilihanku ini adalah selemah-lemahnya iman, ku hanya mampu mendoakan.
Share:

Selasa, 29 November 2016

Selamat Ulang Tahun, Top!

Kawanku ini... seorang lelaki yang tak kunjung dewasa. HAHAHA. Kedewasaannya hanya bertahan dihari pertama Masa Orientasi Pelajar saat SMA, ketika dia menjadi seorang ‘pahlawan’. Terlebih ketika bertemu Naufal Nasiri, freak.

Tapi dialah seorang lelaki yang kupercaya apabila ada masalah berurusan dengan Arnest. Pertama, karena dia kawan sejati kami. Kedua, karena dia Kristen sejati pula. Ketiga, karena dia pernah punya masa-indah-yang-menjadi-kelam dengan seorang lawan jenis beda keyakinan.

Hari ini dia ulang tahun. Ulang tahun yang ke 22. Termuda diantara kami, Arnest dan Burhan.

Iya, Toper, kupanggil dirinya dengan sebutan itu.

Kini... dia masih saja labil. HAHAHA.

Sejak berpisah dengan masa-indah-yang-menjadi-kelam, kisah percintaannya tak kunjung cerah. Tebar jala kemanapun, ikan didapatkan dan dinaikkan ke sampan, tetapi lepas ketika akan kembali ke daratan.

Akan tetapi, dibalik semua ketidak-dewasaan dan kelabilannya, terdapat harapan dan loyalitas yang tinggi. Kalo disuruh memperlakukan pasangan dengan baik, mungkin aku akan kalah. Kalo disuruh beribadah sesuai agama masing-masing, Toper ini bisa jadi lebih unggul daripada aku. Apalagi kalo masalah imajinasi, Toper masih saja juara.

Masih teringat ketika jaman kami SMA, dimana aku dan Arnest dalam keadaan uang mepet dan Toper mengakui hal yang sama. Tetapi ketika sang pacar meminta martabak, dia mengeluarkan emergency money untuk membelikannya. Padahal, posisi kami di Solo. Loyalitas terhadap pasangan.

Well, buat kalian para wanita Kristen, kelahiran 1994 atau lebih muda, udah siap untuk hubungan serius, silahkan hubungi sahabat saya ini. Dia mampu menjadi pencerah dalam hidupmu. Buat yang udah keluar dari sampannya Toper, sedikit beruntung sih, tapi banyak ruginya HEHEHE.

Selamat ulang tahun, Christopher Wicaksono Adi. Semoga Allah selalu mengasihimu dalam sisa umurmu ini. Amiin.

Share:

Rabu, 16 November 2016

Ringkasan - Ustadz Salim A. Fillah Karamnya Sebuah Kapal

Untuk video lengkapnya bisa di tonton disini :)
Ini cuma ringkasan menurut versi saya (ada tambahan dan pengurangan untuk penyesuaian penulisan), apabila ada kesalahan, silahkan lihat videonya di tautan yang sudah saya berikan.
Semoga bermanfaat!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Inti ceramah

  • Cerai itu dibolehkan, kalau:
1. Salah satu pasangan jadi musyrik/pindah agama.

2. Salah satu orang melanggar komitmen besar/misi hidup sebelum pernikahan.

Contohnya:
a. Setelah perang (apa ya aku lupa), Islam dapet harta banyak. Beberapa sahabat ada yang iri sama pembagian harta, tapi setelah dikasih tau alasan-alasannya sama Rasulullah, sahabat sadar dan menerima. Nah, istri-istri Rasulullah tau kalo habis perang dan dapet banyak harta, akhirnya minta kenaikan anggaran dapur, padahal anggaran dapur udah mencukupi. Rasulullah sampe berdiam diri memikirkan hal tersebut selama sebulan, soalnya baru kelarin masalah sahabat dan sahabat mengerti kok ini istri-istri beliau malah gini. Beliau masuk ‘kotak’ nya sampe urusan ummat terbengkalai. Akhirnya setelah keluar, Rasulullah ‘mempertanyakan’ istri-istrinya mau sama aku dapet akhirat atau tinggalkan aku tapi dapet dunia. Jadi beliau menawarkan cerai. Tapi yaaa gak ada yang mau cerai.

b. Salah satu anaknya Abu Bakar Ash Shidiq, namanya Abdurahman, disuruh menceraikan istrinya. Padahal keluarga itu sangat sangat sangat sakinah dan rukun. Nah, saking sakinahnya, Abdurahman jadi susah berangkat jihad. Ibadahnya terganggu pokoknya. Pasangan melankolis banget lah. Akhirnya mereka cerai, karena udah mengganggu ibadah. Habis cerai, malah Abdurahman melamun terus kerjanya. Akhirnya dinikahkan lagi sama mantan istrinya, dengan syarat harus berevolusi.

3. Karena sosial budaya, akhirnya perceraian dapat terlaksana.

Contohnya:
a. Umar bin Khatab dulu mau melamar Ummu Kaltsum binti Abu Bakar Ash Shiddiq. Aisyah tau kalo keduanya sangat berbeda. Umar yang dari keluarga keras, disiplin, tegas dan si Ummu Kaltsum dari keluarga lemah, lembut, pemaaf. Aisyah menyarankan Umar untuk menikahi Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib aja mendingan. Karena latar belakang keluarga yang 11:12. Akhirnya jadi pernikahan yang optimal.

b. Zaid dan Zainab. Zaid itu anak angkat kesayangan Nabi Muhammad. Zaid ini separuh hidupnya adalah budak, jadi kulitnya hitam gitu. Nah, Zainab ini putri bangsawan Quraisy. Mereka dinikahkan Rasulullah karena Rasulullah ingin kasih hadiah terbaik buat Zaid. Setelah nikah, yang ada malahan si Zaid tambah lesu mukanya. Karena semakin hari semakin hari beban sosial dari keluarga Zainab semakin kerasa ke Zaid. Terus dipandang sebelah mata. Akhirnya, Allah SWT menyuruh menceraikan Zaid dan Zainab. Lalu, Rasulullah disuruh Allah SWT untuk menikahi Zainab (sebagai contoh bahwa mantan istri dari anak angkat boleh dijadikan istri oleh sang ayah angkat).

  • Cerai itu dilarang kalo:
1. Nikah cerai cuma buat “mencicipi”. Asal nikah, terus halal “mencicipi”.

2. Hadirnya pihak-pihak ketiga yang membuat salah satunya “terlanjur nyaman”.

3. Istri tidak terima suami berpoligami. Tapi, suami yang baik akan bijak sangat bijak dalam mengambil keputusan untuk berpoligami.

Ilmu Tambahan

1. Secara fikih, pisahnya suami karena bekerja atau apapun itu maksimal 4 bulan. Karena ada kewajiban lahir batin yang harus ditunaikan. Kalo gak bisa, yaa dipikir ulang lah kerjaannya.

2. Penerapan mantan istri atau suami seorang anak angkat berbeda dengan anak kandung.

3. Puasa sunnah istri harus seijin suami, karena kalo nggak ijin, bisa-bisa sang istri ketika diajak bercampur, alasannya puasa.

4. Suami dilarang melarang istri untuk sholat berjamaah di masjid meskipun di rumah lebih utama asalkan kerjaan di rumah udah kelar.

5. Jangan merasa udah mengenal pasangan anda ketika sudah menikah, karena kalo udah merasa kenal, terus ada yang berbeda jadi gak nyaman.

6. Jangan berekspektasi kepada pasangan, karena kalo gak tercipta akan sakit. Makanya haruslah berobsesi.

7. Jadilah tempat yang lebih asyik daripada tempat bermain, agar anak lebih mengidolakan ayah bunda.

8. Kalo kedua pasangan lagi marah banget, mending pause dulu, diam, me time dulu. Jangan asal curhat sembarang ketemen-temen, apalagi curhat ke beda jenis kelamin. Inget-inget kebaikan pasangan. Udah ngapain aja ya dia selama ini. Oooh dia udah ngasih cincin, ngasih ini itu dll.

9. Bilang ke orang tua kalo anaknya curhat masalah pasangannya, tolong bela pasangannya. Soalnya kalo bela anaknya, nanti ada kubu-kubu an. Kalo ada kubu-kubu an nanti saling manas-manasin. Akhirnya cerai.

10. Situasi adalah temporer, sedangkan hubungan adalah abadi. Jadi, situasi jangan mengalahkan hubungan.
Share:

Minggu, 13 November 2016

Pulang Sang Dua, Menyatu Sang Dua

Aprillia Adisti. Seorang wanita yang kukenal sejak SMP. Kami emang gak kenal dekat, hanya dipersatukan oleh institusi pendidikan saja. Lia adalah orang yang pendiam, hingga suatu ketika kuingat dia menjadi heboh ketika kami memiliki percakapan yang cukup lama. Entah kapan percakapan itu terjadi, yang penting kesan pendiam hanya untuk orang yang tidak mengenalnya saja. Masuk SMA kami lebih terikat dengan ke-Padmanaba-an kami.

Aditya Kusuma. Biasa kupanggil Adit Koyor atau Adit Sapi. Entah dari mana datangnya panggilan itu. Dia (mungkin) merasa nyaman dengan panggilan itu karena tetap menoleh ketika kupanggil namanya. Seorang yang kaya, tetapi mau berusaha. Ku mengenal semenjak SMP pula terlebih pada saat menggarap bersama Pawitikra Revolution 2009. Tonggak keuangan ada ditangan dia, melalui link yang dia miliki. Berlanjut pada acara di SMA yang kami berjalan bersama menjadi konseptor. Dia tetap mau berusaha untuk menjadi tonggak keuangan acara 17-an kami. Berjualan hal-hal yang sangat diluar ekspektasi kami saat itu.

Mereka berdua telah berpulang untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Ku doakan semoga amal yang kau perbuat di dunia memudahkan kehidupanmu selanjutnya, Li Dit. Dosa yang ada, semoga segera terampuni. Amal jariyahmu, semoga terus mengalir padamu sampai kiamat kelak.

Satria Dhani Firmansyah. Lelaki kurus dan suka meringis ini kukenal sejak masuk SMA. Gayanya yang sangat berbeda diantara kami, membuat dirinya mencolok. Satr (baca: Sater, seperti Shutter Island), orang yang ceplas ceplos. Kalau mau informasi underground Yogyakarta, tanyalah ke dia. Ketika dulu jamannya bomber grafiti, PSIKOPAD cukup terbantu dengan informasi dari Satr. Dia adalah orang yang kocak.

Sekar Lananingrum. Teman wanitanya memanggil Bebeh, ku juga gak tau darimana panggilan ini. Sekar seorang yang ceria, terus senyum dan hanya beberapa kali ku melihat dia seperti kelelahan pada sore hari saja, sisanya terus bersemangat. Ku mengenal Sekar sejak SMA. Menggeluti kepanitiaan dalam rentang waktu yang sama. Dua hal yang masih teringat adalah suaranya yang khas dan jaket DJPD yang selalu membuatnya tenggelam.

Satr dan Sekar, mereka kini telah menyatu. Sejak SMA pun mereka sangat identik, kemana Sekar ada, Satr pun ada. Mereka pun sudah memberikan cucu bagi Bapak Ibu. Serta keponakan bagi kami para pemuda-pemudi. Hari ini, mereka mengadakan resepsi, ya 13.11.2016. Melihat Instagram keduanya saja sudah membuat diriku tersenyum senang karena ada teman kami yang sudah berkeluarga dan bahagia dengan anaknya.

Ketika Sang Dua sudah berpulang, Sang Dua lainnya menyatu. Ketika kami diliputi kesedihan karena kepulangan Sang Dua, kami terobati dengan menyatunya Sang Dua.

Tetap bahagia ya, Lia Adit! Good luck for you!

Baarakallaahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a bainakumaa fii khaiir, Satr Sekar!





Share:

Rabu, 13 April 2016

Salut Untuk Pevita Pearce!

Satu kata untuk Pevita Pearce, salut!

Ya, dia berani mengungkapkan bahwa dirinya mengidap tumor payudara. Jumlahnya tiga sekaligus. Meskipun hal tersebut baru diungkapkan beberapa saat sebelum operasi dan setelah dua tahun disembunyikannya1) siiiih, tapi it’s okay. Tumornya Pevita Pearce (selanjutnya Pev) ini emang jinak banget. Dalam dua tahun, ketika operasi pun masih ada jaminan bahwa akan sembuh 100%2).

Ahelah cuma ngakuin sakit aja. Biasa aja kali.

Tunggu dulu, alasan saya salut sama Pev karena Pev adalah artis wanita yang masih muda dan cantik. Oke jujur aja aku gak begitu tau Pev sebelum kasus ini mencuat. Tapi, kasus tumornya adalah tumor payudara dimana itu adalah organ vital yang menurutku memiliki kekuatan untuk menarik perhatian dan ketika dikatakan tumor, maka payudara tersebut akan jadi tidak menarik. Muda. Cantik. Payudara.


Bagi pengidap tumor payudara, ketika dia terdiagnosis maka kemungkinan mentalnya akan jatuh sangat besar. Tumor identik dengan kanker dan kanker identik dengan sesuatu yang tidak bisa disembuhkan dan sesuatu yang tidak bisa disembuhkan pasti akan mengakibatkan kematian. Ini momok yang sangat besar bagi kondisi mental pasien tumor. Padahal tumor masih anaknya kanker. Masih ada kemungkinan besar untuk disembuhkan. Kasus jatuhnya mental tadi dialami oleh ibu saya, beliau didiagnosis BI-RADS 33) dan mental beliau langsung jatuh. Padahal pada level tersebut masih dapat disembuhkan.

Seperti yang saya dapatkan dalam Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Edisi Semester 1 Tahun 2015 terbitan Kementrian Kesehatan RI. Dijelaskan bahwa pada tahun 2012 saja, kanker payudara sudah menempati 43,1% dari jumlah kasus baru yang berjumlah 14.067.894. Kanker payudara menjadi hal yang lumrah bagi wanita saat ini. Ketika dapat dikendalikan, maka kasus kematian dari kanker payudara ‘hanya’ 12,9% dari 8.201.575 kematian dari seluruh kemtian kanker di dunia. Hal ini membuktikan bahwa kanker payudara dapat disembuhkan dengan sangat baik.

Apa yang dilakukan Pev dapat mendorong para wanita untuk semakin sering melakukan pemeriksaan kesehatan guna mengecek adakah tanda-tanda tumor pada payudara. Karena tumor belum tentu kanker (koreksi saya kalau salah), sehingga masih dapat disembuhkan dengan mudah. Apabila sudah terdeteksi, maka akan sangat mudah diobati. Pun kalau operasi, seperti yang dilakukan Pev, maka operasinya tidak membutuhkan istirahat yang cukup lama. Sehari udah boleh pulang dari rumah sakit.
Terkadang, karena dianggap biasa saja dan paranoid akan penyakit kanker, maka ketika akan dilakukan tindakan, tumor sudah menjadi kanker dan sudah ganas. Sehingga tindakan yang dilakukan akan susah dan kemungkinan akan terlambat dalam penanganan pula. Kasus ini seperti nenek saya yang ketika akan dilakukan tindakan, ternyata kanker yang ada pada payudaranya sudah pada stadium 4. Sehingga, kondisi tubuh sudah tidak kuat juga dan Allah segera mengundang ruh beliau ke alam selanjutnya.

Terakhir, semoga Pev bisa menginspirasi para wanita lainnya untuk tetap percaya diri apabila mengidap tumor payudara. Begitu pula para lelaki yang sudah memiliki istri pun harus mendukung istrinya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Apabila ternyata benar mengidap tumor, maka teruslah motivasi sang istri untuk melakukan penyembuhan. Dukungan mental sangat dibutuhkan.

Kini, resiko kanker payudara sangat besar bagi wanita, tetapi besar kemungkinan pula untuk disembuhkan. Jaga kesehatan, sob!

Referensi:
3)      Apa itu BI-RADS? Baca disini.

Share:

Selasa, 05 April 2016

Renungan Jembatan Aborsi: Sebuah Tujuan Hidup

Jembatan Aborsi adalah sebuah sebutan jembatan penyeberangan rel kereta api yang menghubungkan antara Universitas Indonesia dan Barel. Struktur anak tangga yang tidak rata dan tidak memiliki tinggi yang sama membuat pengguna jembatan pasti merasa lelah. Sehingga, seolah-olah wanita hamil yang melewati tangga itu akan keguguran – naudzubillah – maka disebutlah jembatan aborsi.

But, why? Mengapa sebuah renungan?

Setiap hari aku melewati jembatan itu. Terdapat dua pemandangan wajib diatas jembatan. Pada sebelah kiri, kita akan melihat deretan baliho di UI. Akhir-akhir ini, baliho-baliho itu menampilkan mahasiswa UI yang ikut Model United Nations (MUN). Aku akui, itu sangat keren! Sudah 3 tahun aku melihat pergantian pemain yang mengikuti MUN. Lalu di sebelah kanan, Apartemen Taman Melati, tempat orang menengah keatas berisitirahat. Beristirahat. Pagi pergi, pulang sore atau malam.

Aku mulai bertanya kepada diri sendiri, mereka sudah sampai ke luar negeri, sudah memiliki prestasi sangat besar, sedangkan aku? Apa yang telah aku kerjakan? Mereka tidur nyenyak di apartemen yang setiap malam kupandang gemerlap lampunya. Kapan aku bisa seperti itu? Punya cukup uang untuk tidur nyenyak di apartemen semacam itu.

Mengapa aku cuma gini-gini aja?

Apa yang udah aku lakuin?

Kapan aku bisa?

Mungkin ini yang membuatku terus menggerutu. Kok dia bisa, aku gak bisa? Pun aku akhirnya merenung. Oke renungan ini cukup lama, tiga tahun aku merenung dan baru-baru ini aku menemukan jawabannya. Lalu aku kembali ke dasar dari hidup ini. Apa sih tujuan hidupku? Ya, tujuan!

Setelah berdiskusi dengan Seta, manusia keturunan seniman yang hidupnya berseni pula, aku menemukannya. Simpel. Membahagiakan keluarga. Ya, tujuan hidupku sesimpel itu. Keluargaku saat ini atau keluarga yang akan aku pimpin nantinya. Akan berakhir saat aku mati. Selesai. Kayak anak kecil banget ya tujuannya? Bukan masalah.

Karena tujuanku luas banget batasannya, maka cara mencapainya pun banyak. Aku pulang ke rumah setiap bulan, itu salah satu bentuk caraku saat ini. Aku nanti memilih kerja yang tidak lembur mati-matian itu pun salah satu caraku nantinya. Belajar Akuntansi Syariah biar tahu mana kasus halal-haram dalam transaksi, pun salah satu caraku juga.

MUN? Mungkin itu cara mereka mencapai tujuan. Siapa tau tujuan mereka memang mau menjadi orang yang dikenang oleh Indonesia. Apartemen Taman Melati? Mungkin itu juga cara mereka mencapai tujuan mereka sendiri. Siapa tau tujuan mereka adalah ingin selalu tidur nyenyak dan aman dengan cara mereka sendiri.

Aku masih ingat, dalam tiga tahun ini aku terus menggerutu. Melihat teman-teman SMA sudah melakukan banyak hal. Terlebih teman-teman selama di perkuliahan. Aku hanya duduk di kamar dan menonton tumpukan film. Setiap buka media sosial, aku semakin menyalahkan diriku. Yaudah, gak ada perkembangan. Siklusnya gitu-gitu aja.

Setelah aku menemukan tujuan hidupku, aku mulai menghargai pencapaian mereka dan pencapaian diriku sendiri. Aku bangga aku sudah pernah hidup dua tahun di Asrama UI. Aku bangga sudah menghabiskan waktu di KRL seharian hanya melihat orang bersosialisasi. Aku bangga sudah mendengarkan Prambors setiap harinya. Aku bangga bisa makan dari nasi yang kumasak sendiri. Aku bangga pernah melihat Jusuf Kalla dari kejauhan. Aku bangga pernah tersasar di Solo. Aku bangga sudah pernah keliling sebagian Jakarta menggunakan Go-Jek. Aku bangga akan hidupku.

Tapi, bukan berarti dengan tujuannku yang sesimpel itu terus aku akan terlena, "Kan tujuanku membahagiakan keluarga, gampang kan?" Nope. Buat apa menjadi kebahagiaan keluarga tapi hanya yang rata-rata saja? Aku harus tetap membuat prestasi yang gemilang.

Ketika kita sudah tau tujuan hidup, kita akan menghargai hidup kita sendiri. Kita juga tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain yang udah sukses. Karena jelas, tujuan setiap orang berbeda-beda maka secara otomatis cara untuk menempuhnya pun berbeda-beda pula. Jangan salah memandang pula, terkadang yang kita bandingkan adalah cara orang untuk mencapai cara-cara dia yang lain untuk menuju tujuan mereka yang sebenarnya. Jadi, lihatlah bahwa mereka sedang berusaha mencapai tujuan besar mereka masing-masing.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
QS. Az-Zariyat ayat 56


Depok, 3 Maret 2016 | 02.55 A.M.
Besok UTS Manajemen Perpajakan & Teori Akuntansi
Share:

Senin, 21 Maret 2016

Hai Pria Cemas, Inilah Rasulullah dan Khadijah



Malam ini aku lihat postingan itu dari akun line Halal Jokes 2.0.

TAP! WHY?

Ya! Aku baru tersadar dari kesimpulan kecil yang sangat menggambarkan kondisi kebanyakan pria sekarang. Hal tersebut gak terpikir sama sekali padahal kisah pernikahan Rasulullah udah dari kecil diceritain sama Ibu dan sampai sekarang aku baca sendiri kisahnya.

Ada tiga poin penting dari hal tersebut: lebih kaya, lebih tua, dan lebih sukses. Aku bakal kasih opini satu-satu dari ketiga poin itu.

1. Lebih Kaya

Bayangkan ketika Rasulullah melamar, beliau memberikan mahar 20 ekor unta muda1) yang mana kalo dikonversikan ke sekitar tahun 2015 itu kira-kira setara sama Rp280.000.0002). Sekaya itulah Rasulullah. Ingat, umurnya 25 tahun.

WAIT.

Dimanakah Rasulullah bekerja? Di tempat Khadijah.

Siapa bosnya? Khadijah pula.

Karyawannya aja sekaya itu, gimana bossnya? Okelah aku yakin Rasulullah bukanlah karyawan biasa, sebut saja kepala badan. Seberapa kaya sih kekayaan kepala badan daripada sang boss?

Kita tarik kondisi sekarang. Apakah perbedaan kekayaanmu dan calon istrimu lebih tinggi dari kasus Rasulullah? Enggak kan? Lalu, kenapa harus cemas menikahi calon istrimu?

Sob, bayangin seberapa relanya wanita itu melepaskan segala kekayaan bersama orangtuanya dan memilih hidup dari nol bersamamu. Itu perjuangan besar bagi wanita yang butuh make up, perawatan, pakaian banyak, ini itu ini itu. Berat sob. Kita? Yaelah, cuma mikirin "Kan dia kaya, aku sederhana gimana yaa. Bisa gak yaa. Hidup kita kan selama ini beda." Habis mikirin gitu terus kalo calon istrimu ternyata gak bisa masak apa nyapu rumah terus kamu kecewa terus ganti yang lain. Aelah cemen banget sih standar pemilihan istrimu.

Mendiskusikan hal ini dengan calon istrimu boleh boleh aja. Tapi jangan sampe berpikir atau menyudutkan istrimu gak bisa ngapa-ngapain karena selama hidupnya, dia hidup nyaman. Itu menyakiti hatinya banget.

Yang kaya itu orangtuanya. Kalo dia emang kaya, dia emang butuh perlengkapan lebih daripada kita para lelaki, jadi maklumilah.

2. Lebih tua

Rasulullah ini nikah umur 25 tahun dan Khadijah saat itu umurnya 40 tahun (ada pendapat yang mengatakan 28 tahun). Rentang yang sangat tinggi bukan? Itu kayak ketika kita udah mengenal cinta monyet, terus pasanganmu baru keluar dari rahim.

Selama itu kah jarak umurmu dan calon istrimu?

Yang kita bayangin pasti kalo cewe itu ribet. Apalagi yang lebih tua, pasti merasa lebih tau – emang lebih tau sih – terus kita sebagai cowo gak mau egonya terjajah. Kita harus lebih berkuasa, lebih jago. Jadi, kita cari wanita yang lebih muda dan polos serta imut imut.

Gak salah kok mencari yang lebih muda, kalau gak salah Umar bin Khattab menyarankan hal tersebut. Tapi ingat, gak salah juga kita dapet yang lebih tua.

Bayangkan ketika ada wanita lebih tua merelakan hidupnya dibawah pimpinan lelaki yang lebih muda. Susah lho itu. Lebih susah daripada cuma melepaskan kebiasaan hidup dengan kekayaan orangtuanya. Emang wanita egonya gak tinggi? Melepaskan ego itulah yang susah. Pun juga melepaskan stigma "Alah baru anak kemaren sore" hanya untuk sang suami yang lebih muda.

Bersyukurlah kalau pasanganmu lebih tua, setidaknya kamu akan merasa tenang dalam hal pendidikan anak-anak. Karena dia jauh lebih berpengalaman. Gak usah berkeluh kesah ini itu, nikmati sajalah.

3. Lebih sukses

"Dia lulus cumlaude terus langsung dapet kerja di multinasional dan bentar lagi mau lanjut kuliah di luar negeri. Aku mah apatuh."

Minder?

Boy, kalo terus mikirin semacam hal seperti itu, kapan kamu mau beranjak. Sudahlah, dia emang pantas mendapatkan kesuksesannya kok, karena dia berusaha.

Jangan lupa, nabi kita yang paling agung, Rasulullah itu kalo ada lomba calon suami minder dan beliau ikutan, bisa jadi beliau menjadi pemenang. Karyawan dan boss. Tanah dan bumi.

Khadijah ini orang sukses banget. Saudagar kaya. Sekali transaksi jual beli ekspor impor berapa banyaknya. Dan Rasulullah cuma karyawannya, kepala badan. Apa beliau gak minder tuh pas mau ngelamar bossnya sendiri? Kalo secara dugaan-dugaan, jelas minder. "Lau sokap?". Tapi nyatanya? Rasulullah maju terus pantang mundur. Tidak cemas dab tetap menikahi Khadijah.

Apakah posisimu se-ekstrim Rasulullah? Apaan coba posisimu? Ini Rasulullah udah kasih contoh kesuksesan bukanlah yang akan kamu nikahi, tapi wanitanya. Kenapa kamu harus minder dengan segala prestasi calon istrimu?

Terus sekarang kamu berpikir, tapi aku udah ngapain aja? Apa kesuksesan yang telah kuperbuat? Boy, tak usah kau pikirkan itu. Ketika kamu berani meminang calon istrimu dengan segudang prestasinya, maka kamu telah sukses memiliki orang sukses. Apa itu gak keren?

Ingat lagi juga boy, ketika kamu mencari orang yang tidak lebih sukses daripada kamu, maka anak-anakmu bakalan kasihan. Ibunya akan susah menjadi panutan sang anak. Beda kalo istrimu orang sukses, maka anak-anak akan terinspirasi olehnya.

Dan itulah opiniku tentang tiga poin tadi. Kesemuanya udah dicontohin sama Rasulullah. Udah ditaklukkan beliau. Hanya untuk kita, para ummat beliau yang spesial. Buat apalagi kamu cemas dengan hal-hal keduniawian itu? Toh kamu meminang orangnya, bukan aksesorisnya kan?

Semoga bermanfaat sob!

Catatan:
Share:

Kamis, 17 Maret 2016

Bersyukur, Maka Ditambah

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikamt-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim : 7)

Ini tentang beberapa hari yang lalu aku sedikit mendapat yaa dikatakan kesusahan. Kesusahannya simpel, kelas pengganti yang mendadak. Rencana yang sudah kususun baik-baik menjadi bubrah. Tapi mau gimana lagi?
Kira-kira hari itu hari Jumat, 4 Maret 2016. Jadi, rencananya tanggal Kamis, 17 Maret 2016 aku pulang ke Jogja. Balik lagi ke Depok Minggu, 20 Maret 2016. Soalnya tiba-tiba terdapat kelas pengganti di hari Jumat dan Sabtu, gak tanggung-tanggung, 4 sesi! Respon aku jelas wah bingung, kalut dan banyak lah.
Akhirnya aku harus mengatur ulang jadwal kepulangan aku seminggu lebih cepat, yaitu Kamis, 10 Maret 2016. Dan taraaaaa tiket kereta Jakarta-Jogja PP udah tinggal yang mahal-mahal. Akhirnya aku memutuskan Jakarta-Semarang-Jogja dan Jogja-Bandung-Jakarta. Menerima keadaan dan bersyukur masih dapaet akses pulang.
Nah, tepat setelah pesan tiket kepulangan dan hingga hari ini, ternyata terdapat rencana Allah yang sangat super.
1.       Ada rencana Welcoming Party Social Community di hari Jumat, 18 Maret 2016 – meskipun kemungkinan besar diundur karena suatu hal – yang mana aku gak mungkin ninggalin kan.
2.       Ternyata Bapak Ibu ke Jakarta di hari Sabtu, 19 Maret 2016. Seandainya aku balik tetep tanggal 17, kan tiket kuhanguskan dan aku gak balik Jogja. Ini udah balik Jogja dan bisa ketemu Bapak Ibu lagi minggu depannya.
3.       Arnest juga ke Jakarta di hari Sabtu, 19 Maret 2016. Rencana ini sungguh ajaib. Dapet durian runtuh ketemu sama orang-orang yang diinginkan.
4.       Dapet referensi magang di konsultan bisnis langsung ke direkturnya dari dosen yang kasih kuliah pengganti mendadak. Aku kira beliau memberi referensi HRD-nya, setelah aku cek di websitenya, ternyata referensi beliau langsung ke direkturnya.
5.       Rencana kuliah pengganti Jumat Sabtu diganti jadi minggu depannya lagi. Jadi weekend ini bebas.
Terus aku teringat ayat yang udah disebutkan diatas itu. Yaa, nikmat emang banyak bentuknya. Kalau mau dapet tambahan, maka bersyukurlah. Emang sih diawal aku merespon secara normal manusia yang kesal, tapi akhirnya aku menerima keadaan dengan merubah jadwal kepulangan. Dan alhamdulillahirabbil allamin ternyata ada kejutan-kejutan lain di belakang rencana ini semua.
                Semoga menjadi berkah kita semua, amiin.
Share:

Minggu, 06 Maret 2016

#BurhanBacaBuku Anwar Abbas 'Bung Hatta dan Ekonomi Islam'


Setiap saya ke Perpustakaan FEB UI, saya melihat buku ini ditaruh spesial di dalam lemari kaca. saya pun memberanikan untuk bertanya apakah buku tersebut bisa dipinjam atau tidak dan kini saya tau alasan kenapa diletakkan di lemari kaca karena Perpustakaan FEB UI Cuma punya satu buku saja, takut hilang kalau dipinjamkan. Akhirnya setelah diperbanyak sama pustakawan, buku ini bisa dipinjam.

Sekilas, judul buku ini menarik. Bung Hatta dan Ekonomi Islam. Gagah banget judulnya menurut saya. Mungkin karena saya sedang mendalami materi Ekonomi Islam sih. Setelah saya baca-baca, kegagahan judul tersebut mulai luntur. Tambah membaca lagi, semakin hilang minat baca saya. Entah mengapa, yang saya dapati adalah ‘Bung Hatta dan Ekonomi Pancasila-nya yang Disangkut-pautkan dengan Ekonomi Islam.’ Atau mungkin ekspektasi saya salah dalam membaca buku ini.

Ada enam bagian di buku ini yaitu: (1) titik awal mengenal pemikiran Bung Hatta (2) biografi sosial politik Bung Hatta (3) falsafah dan cita-cita sosial ekonomi (4) nilai fundamental dan instrumental ekonomi (5) dinamika ekonomi dan globalisasi (6) kesimpulan. Melihat dari keenam bagian buku tersebut, entah mengapa ruh Ekonomi Islam hanya sebagai ekor saja. Jelas tidak menjadi bagian khusus di buku ini. Padahal, menurut saya, kata penghubung ‘dan’ memiliki arti kesetaraan posisi antara kata yang dihubungkan, lalu menilik kembali bahwa buku ini memiliki judul ‘Bung Hatta dan Ekonomi Islam’. Terlihat aneh.

Pada bagian awal buku, Anwar Abbas membahas tentang kehidupan Bung Hatta. Mulai dari kecil sampai meninggal. Bagian ini memakan hampir sepertiga buku ini. Entah mengapa porsi ini menurut saya terlalu banyak, sehingga pembaca bisa rancu dalam membaca buku ini. Ini biografi Bung Hatta apa ‘Bung Hatta dan Ekonomi Islam’? Bagi saya sih bukan masalah, karena saya suka membaca biografi. Tapi agak aneh aja kalau terlalu panjang.

Mulai memasuki bagian selanjutnya, mulai mengulik teori Ekonomi Pancasila-nya Bung Hatta. Teori yang tidak kapitalis dan sosisalis, tetapi tidak menolak keduanya juga. Condong ke sosialis, tetapi memperbolehkan monopoli oleh BUMN/Koperasi. Entah mengapa ada yang saya sedikit kecewakan dari buku ini. Hampir disetiap topik bahasan, setelah panjang lebar membahas masalah teori-toerinya Bung Hatta, di akhir hanya membahas yang intinya ‘Ya itu sesuai prinsip syariah.’ That’s it. Tidak menerangkan teori syariah yang ada.

Sebagai contoh saya ambil dari halaman 301 yang bertuliskan.

“Pandangan Hatta ini tentu tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam, karena dalam melihat masalah ini Hatta lebih mengedepankan masalah kemaslahatan yang lebih luas dan lebih besar agar tercipta kesejahteraan yang lebih tinggi dan merata di tengah-tengah masyarakat. Ini jelas merupakan salah satu prinsip dalam Islam.”

Satu paragraf ini adalah kesimpulan dari satu sub-topik mengenai pelaksanaan program transmigrasi yang mana terdapat sekitar 29 paragraf sebelumnya. Setelah paragraf kesimpulan tersebut, lalu ganti sub-topik. Entah mengapa saya merasa kurang puas kalau hampir keseluruhan pembahasan dalam buku ini hanya seperti itu unsur Ekonomi Islam-nya. Terasa aneh dan kurang saja.

Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari membaca buku ini, yaitu: (1) ternyata Bung Hatta menyetujui bunga bank pada saat beliau hidup (2) Bung Hatta tidaklah sekuler, karena beliau lebih mengedepankan isi ajaran Islam daripada cover-nya belaka (3) Ekonomi Pancasila-nya Bung Hatta adalah gabungan dari kapitalisme, Islam, dan sosialisme.

Secara keseluruhan, buku ini bagus untuk membaca bagaimana kehidupan Bung Hatta dan bagaimana kiprah penemuan teori Ekonomi Pancasila-nya. Apabila untuk rujukan teori-teori Ekonomi Islam yang dilahirkan Bung Hatta atau teori secara umum, maka sangat kurang.

Terakhir, teruntuk Pak Anwar Abbas, terimakasih telah memberikan saya pengetahuan baru mengenai Bung Hatta. Semoga ini bisa menjadi amal jariyah Bapak. Mohon maaf apabila saya terdapat salah kata dalam me-review buku Bapak. Jazakumullah khairan katsiira.

Share: